KENDARI – Sebanyak 93 peserta dinyatakan lulus dalam pelatihan Laboratorium PAI dan Manajemen Perpustakaan PAI yang digelar melalui kerja sama Balai Diklat Keagamaan (BDK) Makassar dengan Dewan Pengurus Wilayah Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (DPW AGPAII) Sulawesi Tenggara.
Pelatihan berlangsung selama enam hari, 9–14 September 2026, tersebut ditutup di Aula Kantor Balai Penjamin Mutu Pelatihan LPMP Provinsi Sulawesi Tenggara, Kendari, Senin (14/9/2026).
Perwakilan BDK Makassar, Irfan, dalam laporan penutupan menyampaikan, kegiatan diikuti total 94 peserta yang terdiri atas 47 peserta Pelatihan Laboratorium PAI Angkatan 10 dan 47 peserta Pelatihan Teknis Manajemen Perpustakaan Angkatan 3.
“Untuk pelatihan Laboratorium PAI Angkatan 10, peserta sebanyak 47 orang dan semuanya dinyatakan lulus,” kata Irfan.
Dari 47 peserta tersebut, sebanyak empat orang memperoleh kualifikasi sangat kompeten dan 43 orang kompeten. Nilai tertinggi mencapai 93,95, nilai terendah 89,7, dengan nilai rata-rata 90,76.
Sementara untuk Pelatihan Teknis Manajemen Perpustakaan Angkatan 3, sebanyak 46 dari 47 peserta dinyatakan lulus. Satu peserta dinyatakan tidak lulus.
Nilai tertinggi pada pelatihan tersebut mencapai 92,17, nilai terendah 70, dengan nilai rata-rata 88,17. Satu peserta memperoleh kualifikasi sangat kompeten dan 45 peserta lainnya kompeten.
Ketua DPW AGPAII Sultra, La Hamiku, mengatakan pelatihan tersebut tidak boleh hanya dimaknai sebagai upaya memperoleh sertifikat untuk memenuhi persyaratan jam pembelajaran.
Menurutnya, ilmu dan keterampilan yang diperoleh peserta harus benar-benar diterapkan ketika kembali ke sekolah masing-masing.
“Pelatihan boleh selesai hari ini, tapi tugas kita baru mulai. Laboratorium PAI bukan hanya tempat praktik, tetapi juga sebagai wadah berdakwah. Perpustakaan PAI bukan hanya gudang buku, tetapi pelita bangsa dan jendela dunia,” ujarnya.
La Hamiku menegaskan, kehadiran laboratorium dan perpustakaan PAI diharapkan mampu menjadi sumber belajar yang memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pendidikan agama di sekolah.
Ia juga mengungkapkan, AGPAII Sultra bersama BDK Makassar berencana kembali melaksanakan pelatihan serupa pada Desember mendatang.
“Tujuannya untuk menyelesaikan masalah guru-guru Pendidikan Agama Islam di seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara, terutama dalam hal pencapaian jam pembelajaran,” katanya.
Sementara itu, Kabid Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (Pakis) Kanwil Kemenag Sultra, H. Jumail, yang mewakili Kakanwil Kemenag Sultra, menekankan pentingnya guru agama terus meningkatkan kompetensi dan menjadi teladan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Ia mengibaratkan guru sebagai tongkat yang harus lurus agar mampu menghasilkan bayangan yang lurus.
“Mana mungkin sebuah bayangan bisa lurus jika tongkatnya bengkok. Ini sangat tepat ditujukan kepada saudara-saudara yang berprofesi sebagai guru agama,” kata Jumail.
Menurutnya, guru PAI tidak hanya dituntut memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga kompetensi sosial dan loyalitas.
Ia berharap guru agama mampu tampil sebagai sosok yang cerdas, memiliki kemampuan berkolaborasi, serta menjadi teladan bagi peserta didik.
Jumail juga menilai pelatihan secara tatap muka atau offline memiliki keunggulan dalam meningkatkan kompetensi guru dibandingkan pelatihan yang sepenuhnya dilakukan secara daring.
Ia bahkan menyatakan dukungannya terhadap usulan AGPAII Sultra agar pelatihan tatap muka lebih diutamakan selama masih memungkinkan untuk dilaksanakan.
“Kami sangat mendukung. Tidak mungkin sama antara yang langsung seperti ini dengan yang online. Bisa saja peserta dalam keadaan tidur, mengurus dapur atau memasak, sementara HP-nya hanya berbunyi sendiri. Setelah selesai, mereka dinyatakan lulus tanpa pengetahuan,” tegasnya.
Jumail mengatakan, pelatihan menjadi salah satu cara penting bagi guru untuk terus mengembangkan pengetahuan, memperkuat silaturahmi, bertukar pengalaman, serta membangun kolaborasi dengan sesama pendidik.
“Dengan diklat, mereka bisa kembali mengembangkan diri, menambah pengetahuan, memperkuat silaturahmi dan bertukar pikiran untuk kemajuan pendidikan di sekolah,” pungkasnya.