KENDARI — Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) kembali mencatatkan tren positif. Komoditas besi dan baja kian mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung utama ekspor daerah tersebut setelah membukukan kenaikan signifikan pada pertengahan tahun ini.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara, nilai ekspor besi dan baja pada Juli 2026 mencapai US$388,77 juta. Angka ini melonjak tajam sebesar 33,41 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (*year-on-year*).
Kenaikan tersebut didorong oleh tingginya permintaan pasar global terhadap produk hasil olahan nikel dan baja dari kawasan industri yang beroperasi di Sultra.
Kepala BPS Sultra, Hadi Susanto, mengungkapkan bahwa struktur ekspor Sultra saat ini hampir sepenuhnya ditopang oleh sektor industri pengolahan (manufaktur).
"Sektor industri pengolahan menyumbang 99,84 persen dari total nilai ekspor Sultra selama periode Januari hingga Juli 2026,” ujar Hadi Susanto dalam keterangannya di Kendari.
Hadi menambahkan, dari total capaian industri pengolahan tersebut, komoditas besi dan baja menjadi penyumbang terbesar secara akumulatif.
Kontribusi Besi dan Baja, Menyumbang 98,34 persen terhadap total ekspor Sultra secara kumulatif (Januari–Juli 2026).
*Sektor Lainnya yakni Hasil perikanan, pertanian, dan pertambangan mentah secara gabungan hanya menyumbang sisa porsi sekitar 1,66 persen.
Dominasi besi dan baja menunjukkan berhasilnya hilirisasi industri mineral di Sulawesi Tenggara yang berpusat di beberapa kawasan industri strategis, seperti Morosi di Kabupaten Konawe dan kawasan industri di Kabupaten Kolaka serta Konawe Selatan.
Kendati demikian, pengamat ekonomi daerah mengingatkan pentingnya diversifikasi komoditas ekspor. Meskipun angka ekspor sektor manufaktur terus melonjak, ketergantungan yang terlalu tinggi pada satu komoditas berpotensi menimbulkan risiko jika terjadi fluktuasi harga atau penurunan permintaan besi dan baja di pasar internasional.
BPS berharap kinerja positif pada Juli 2026 ini dapat terus berlanjut hingga akhir tahun demi menjaga pertumbuhan ekonomi kawasan dan neraca perdagangan Sulawesi Tenggara tetap surplus.