Baubau - Cornhouse B.V adalah perusahaan perdagangan global (global trading house) yang berasal dari Rotterdam, Belanda kini tengah mengkaji potensi komoditas mete di wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra). Langkah ini dilakukan sebagai bentuk studi kelayakan sebelum merealisasikan rencana pembangunan pabrik pengolahan mete skala besar di daerah tersebut.
Representative Cornhouse BV, Mohammad Andriza Syarif kepada sejumlah awak media usai menemui Wali Kota Baubau H Yusran Fahim, SE di ruang kerjanya Rabu (02/09/2026) menjelaskan, studi awal fokus pada pemetaan kualitas dan keberlanjutan pasokan mete di wilayah Baubau, Muna, Buton, hingga Kendari. Studi ini juga menyelaraskan program penanaman mete dari Kementerian Pertanian di sejumlah titik.
"Hasil studi ini menjadi bahan pengambilan keputusan kami untuk melanjutkan proses pembangunan pabrik. Jika pabrik sudah beroperasi, petani bisa langsung menjual hasil panennya ke pabrik tanpa harus melalui pengepul yang selama ini mengirimnya ke Vietnam sebelum berakhir di Belanda," ujar Andriza.
Saat ini tambahnya, Cornhouse BV mencatat pengiriman mete mencapai 6 kontainer per hari dengan pertumbuhan pasar sebesar 7 persen setiap tahun. Untuk menampung potensi tersebut, pabrik yang diusulkan dirancang memiliki kapasitas olah hingga 30 ribu ton per tahun dan dipusatkan di satu titik lokasi terpadu di Sultra.
Diungkapkan, dari kapasitas 30 ribu ton bahan baku tersebut, pabrik diperkirakan mampu menghasilkan output mete olahan sebanyak 8 ribu ton per tahun atau sekitar 1.800 ton per bulan. Jika pasokan dari Sultra masih memadai, kebutuhan pabrik akan ditopang oleh mekanisme penyimpan stok saat panen raya. Namun, jika terjadi kekurangan, pasokan akan didatangkan dari wilayah tetangga seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, hingga Flores.
Lebi lanjut dijelaskan, rencana kehadiran pabrik di Sultra juga membawa angin segar bagi skema harga di tingkat petani. Cornhouse BV memproyeksikan harga beli mete mentah dari petani lokal dapat mencapai Rp35.000 per kilogram. Karena itu,dengan asumsi hasil rendemen (ricinut) sebesar 285 gram per kilogram, produk olahan Sultra dinilai sangat kompetitif dibanding pasar Vietnam yang saat ini berada di kisaran Rp116.000 per kilogram.
"Dengan kalkulasi harga beli Rp35.000 di tingkat petani, kita masih sanggup bersaing dengan harga mete di Vietnam. Rantai pasok yang lebih pendek ini membuat pabrik bisa meraih untung, dan di saat yang sama teman-teman petani juga mendapatkan keuntungan yang adil," tutup Andriza.