Setidaknya 162 orang dilaporkan tewas di Nepal akibat banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi Rabu (26/08). Sekitar 403 orang dari berbagai negara juga belum ditemukan.
Peristiwa ini adalah bencana paling dahsyat di Nepal sejak gempa pada 2015, yang menewaskan sekitar 9.000 orang.
Beberapa distrik hilir di sepanjang perbatasan Nepal-China terdampak banjir dan longsor ini. Para pejabat setempat menyebut bencana ini memicu kerugian besar, baik nyawa dan harta benda, tapi mereka belum memiliki estimasi yang jelas.
Anggota keluarga saya tersapu banjir di depan mata saya," kata Kalpana Malla, warga Distrik Nuwakot, Nepal.
Kalpana mengatakan, ayah, ibu, saudara perempuan, dan anak-anak saudara perempuannya semuanya tersapu banjir dan longsor.
"Mereka tidak bisa melarikan diri dari banjir; tidak ada kesempatan sama sekali," katanya.
"Banjir ini merenggut segalanya. Saya dan putra saya memanjat atap rumah dan selamat, tapi saya tidak bisa menjelaskan bagaimana kami bisa selamat," ujarnya.
Warga Nepal penyintas peristiwa ini, Keshav Prasad Baral, menyebut banjir di perbatasan antara Nepal dan Tibet tampak seperti "semburan lumpur besar yang datang langsung ke arah kami".
Laki-laki berusia 68 tahun itu kini tengah dirawat di rumah sakit. Dia berkata, air naik semakin tinggi sebelum memasuki rumahnya.
Saat peristiwa itu terjadi, Keshav berusaha meraih tangan istrinya. Namun istrinya tetap tersapu banjir dan longsor.
"Empat atau lima jam kemudian, sebuah helikopter datang untuk menyelamatkan saya. Istri saya masih berada di suatu tempat di bawah lumpur. Dia telah tiada," katanya.
Terdapat 45 warga Indonesia yang berdomisili di Kathmandu, Nepal, menurut Kementerian Luar Negeri Indonesia. Mereka bekerja di sektor perhotelan.
Namun hingga berita ini dipublikasi, Kedutaan Besar Indonesia di Dhaka dan di Beijing terus belum terdapat laporan mengenai WNI yang terdampak banjir dan longsor ini.
Saat ini otoritas Indonesia di Dhaka tengah fokus memastikan ada atau tidaknya WNI yang mendaki di sekitar Nepal.
Orang-orang yang hilang juga terdiri dari 100 warga India, 54 warga Amerika Serikat, dan 33 warga Inggris, menurut badan pariwisata Nepal.
Kementerian Luar Negeri Ukraina menyebut 53 warga merkea saat ini juga di perbatasan Nepal-Tibet.
Setiap kali terjadi banjir seperti ini di Himalaya, satu pertanyaan yang muncul secara spontan adalah: apa penyebabnya?
Persoalannya, seringkali adalah tidak ada jawaban pasti yang bisa didapatkan secara instan. Lanskap yang sulit di Himalaya, termasuk di Tibet, tempat yang menurut beberapa orang merupakan asal mula banjir hampir tidak dihuni manusia.
Awalnya otoritas setempat menganggap gempa bumi adalah faktor pemicu banjir bandang.
Namun analisis terbaru dari Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menunjukkan tidak ada gempa di di sekitar Nepal. Lembaga ini menyebut gletser yang runtuh dan aliran puing adalah penyebab aktivitas seismik tersebut.
"Analisis tambahan terhadap gelombang seismik periode panjang menunjukkan bahwa energi seismik tersebut justru dihasilkan oleh tanah longsor," demikian pernyataan Badan Survei Geologi AS.
Para pejabat dari departemen meteorologi dan hidrologi Nepal mengatakan kepada BBC, beberapa gambar yang mereka lihat menunjukkan bongkahan es besar (mungkin bagian dari gletser) telah runtuh dari sebuah gunung di sisi Tibet. Bongkahan itu membawa bebatuan dan sedimen lainnya.
Menurut para pejabat di lembaga itu, reruntuhan tersebut mungkin telah menghasilkan sejumlah volume air karena gesekan antara bebatuan dan es saat jatuh.
Sisa-sisa bebatuan dan sedimen tersebut membentuk bendungan di sungai Lhende di bawahnya, awalnya menghambat alirannya tetapi akhirnya menyebabkan bendungan tersebut jebol.