Baubau - Asisten Utusan Khusus Presiden Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif dan Digital, Wahyu Andrianto, mendorong pengembangan industri hilirisasi jambu mete di Kota Baubau dan Sulawesi Tenggara agar tidak berhenti pada produksi bahan mentah, tetapi mampu menciptakan nilai tambah yang dinikmati petani, pelaku UMKM, industri, hingga tenaga kerja lokal.
Hal tersebut disampaikan Wahyu dalam keterangan persnya usai menemui Wali Kota Baubau terkait pengembangan potensi komoditas jambu mete di Kota Baubau, Rabu (02/09/2026).
Menurut Wahyu, pengembangan hilirisasi merupakan bagian dari arahan Presiden agar setiap potensi komoditas di Indonesia mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan daerah.“Sesuai dengan arahan Bapak Presiden, semua harus ada nilai tambah. Itu tercermin dari program hilirisasi kita. Kita masuk dari kacang mete atau produk kacang-kacangan lainnya, harus ada nilai tambahnya agar nantinya dinikmati mulai dari industri yang ada di sini, baik UMKM bahkan petani,” ujarnya.
Ditambahkan, pemerintah sangat terbuka terhadap investasi yang mampu memberikan nilai tambah sekaligus mendorong industrialisasi di daerah.“Siapapun yang mau berinvestasi di Indonesia selama itu memberikan nilai tambah dan bisa meningkatkan industrialisasi di sini, itu pasti kita sangat dukung,” tegasnya.
Wahyu menilai kehadiran investor dari luar memiliki peran strategis, terutama dalam menjamin kebutuhan bahan baku yang relatif stabil sekaligus membuka peluang terciptanya pasar dan harga yang lebih baik bagi komoditas jambu mete.Namun demikian, investasi tersebut harus dibarengi dengan pembangunan industri di Sulawesi Tenggara dan melibatkan masyarakat lokal.
Pihaknya menekankan, industri mete tidak boleh berdiri sendiri, tetapi harus membangun ekosistem yang saling mendukung dengan UMKM dan petani.“Harus dibarengi dengan pembangunan dan investasi industri yang ada di Sulawesi Tenggara dan melibatkan atau bisa menyerap tenaga kerja yang ada di sini. Juga dicari cara bagaimana agar UMKM-nya bisa tumbuh di sini.Dengan demikian, menurutnya, keberadaan industri dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi baru di Baubau dan Sulawesi Tenggara,”imbuhnya.
Utusan Khusus Presiden RI ini uga menyoroti pentingnya melibatkan generasi muda, khususnya Generasi Z, dalam pengembangan industri jambu mete. Karena, karakter generasi muda saat ini membutuhkan pendekatan yang lebih dekat dengan teknologi serta memberikan ruang bagi mereka untuk berwirausaha.Selain menjadi tenaga kerja, generasi muda juga diharapkan dapat berkembang sebagai pelaku usaha dalam rantai industri mete, mulai dari pengolahan, pemasaran, hingga pengembangan produk kreatif.
Sebagai bagian dari Utusan Khusus Presiden Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif dan Digital, Wahyu menyebut terdapat dua hal penting yang akan menjadi perhatian untuk disampaikan kepada Presiden, yakni pemanfaatan teknologi informasi dan pengembangan kekayaan intelektual.Bagaimana kekayaan intelektual itu menjadi sumber harta karun, supaya industri mete itu dengan sentuhan kreatif bisa membuat ekonomi yang baru.
Posisi Kota Baubau saat ini ungkapnya memiliki peran penting karena selama ini menjadi salah satu pusat lalu lintas perdagangan dan jasa di kawasan Kepulauan Buton.Karena itu, diharapkan Baubau dapat terus meningkatkan kualitas layanan, khususnya dalam mendukung aktivitas perdagangan antarwilayah dan ekspor. Dan dengan dukungan layanan perdagangan dan konektivitas yang semakin baik, Baubau diharapkan mampu menjadi pintu pasar bagi produk-produk dari daerah sekitar, termasuk komoditas perkebunan seperti jambu mete.
”Pengembangan hilirisasi jambu mete tersebut diharapkan mampu membentuk ekosistem industri dari hulu hingga hilir, dengan petani sebagai pemasok bahan baku, industri sebagai pengolah, UMKM dan generasi muda sebagai pelaku inovasi serta kewirausahaan, dan Baubau sebagai salah satu simpul perdagangan dan pemasaran produk bernilai tambah,”tutupnya