Baubau - Pemerintah Kota Baubau melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) memperkuat sinergi lintas sektor dalam menangani fenomena anak jalanan yang melakukan aktivitas meminta-minta di sejumlah fasilitas publik.
Upaya tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Penanganan Anak Jalanan yang digelar DP3AKB Kota Baubau, Kamis (03/09/2026), di Kantor DP3AKB Kota Baubau. Rapat dimulai pukul 11.00 WITA dan melibatkan sejumlah perangkat daerah serta unsur terkait.
Rapat dipimpin Kepala DP3AKB Kota Baubau Abdul Rahman, S.Pd., M.Si., dan dihadiri perwakilan Dinas Sosial dan Tenaga Kerja, Dinas Perhubungan, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, Satpol PP, Kesra, Kecamatan Wolio, Kecamatan Betoambari, UPTD PPA, serta Pekerja Sosial.
Kepala DP3AKB Kota Baubau Abdul Rahman mengatakan, persoalan anak jalanan tidak dapat hanya dilihat dari sisi ketertiban umum.Menurutnya, fenomena tersebut berkaitan dengan berbagai persoalan, mulai dari kondisi sosial ekonomi keluarga, pengasuhan, pendidikan hingga perlindungan anak.“Kita perlu melihat persoalan ini secara utuh. Penanganannya harus dilakukan bersama-sama dan dengan pendekatan yang humanis,” ujar Abdul Rahman.
Ditambahkan, dalam rapat terungkap bahwa sejumlah anak jalanan telah berulang kali mendapatkan teguran dan pendekatan persuasif agar tidak kembali melakukan aktivitas di jalan. Sebagian di antaranya juga telah terdata dan mendapatkan bantuan sosial sebagai bentuk intervensi pemerintah terhadap kondisi keluarga.
Namun demikian, upaya tersebut belum sepenuhnya menghentikan aktivitas anak di jalan. Sebagian anak masih kembali ke lokasi-lokasi tertentu, terutama perempatan, persimpangan, pasar dan fasilitas publik, karena aktivitas meminta-minta dinilai mudah menghasilkan uang.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena menunjukkan bahwa penanganan anak jalanan tidak cukup hanya melalui penertiban maupun pemberian bantuan sosial.
Diperlukan langkah yang lebih menyeluruh melalui penguatan keluarga, pendampingan anak, keberlanjutan pendidikan, perlindungan anak serta pemberdayaan ekonomi keluarga.
Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan tidak membiasakan memberikan uang secara langsung kepada anak yang berada di jalan. Kebiasaan tersebut dinilai dapat menjadi salah satu faktor yang mempertahankan aktivitas anak untuk terus turun ke jalan.
Rapat juga membahas pemetaan lokasi yang menjadi titik aktivitas anak jalanan sekaligus pendataan kondisi masing-masing anak. Pemetaan tersebut penting untuk mengetahui latar belakang anak, kondisi keluarga, pendidikan, pengasuhan, ekonomi serta lingkungan sosialnya.
Hasil pemetaan selanjutnya akan menjadi dasar dalam menentukan bentuk intervensi yang tepat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Strategi penanganan diarahkan melalui pencegahan, patroli secara humanis dan persuasif, asesmen, rehabilitasi sosial hingga reintegrasi anak ke dalam keluarga dan lingkungan masyarakat.
Pembagian peran antarinstansi juga menjadi bagian penting dalam penanganan. Upaya tersebut mencakup asesmen dan pemulangan anak kepada keluarga, pendataan dan pemetaan wilayah, koordinasi di tingkat kelurahan dengan melibatkan Babinsa, Bhabinkamtibmas dan tokoh masyarakat, serta pemberdayaan ekonomi keluarga.
Selain itu, rapat mendorong langkah tegas terhadap pihak-pihak yang terbukti mengeksploitasi anak. Koordinasi melalui tim terpadu dinilai penting agar penanganan tidak dilakukan secara parsial oleh masing-masing instansi.
Memutus Mata Rantai Anak Kembali ke Jalan
Melalui rapat koordinasi tersebut, Pemkot Baubau berupaya membangun sistem penanganan anak jalanan yang lebih terpadu, humanis dan berkelanjutan.
Pengalaman bahwa anak telah diberikan edukasi, didata dan bahkan mendapatkan bantuan, namun masih kembali ke jalan, menjadi evaluasi bahwa persoalan tersebut membutuhkan intervensi yang menyentuh akar masalah.
Penanganan anak jalanan, kata Abdul Rahman, bukan sekadar memindahkan anak dari jalan, tetapi bagaimana memutus mata rantai yang menyebabkan mereka kembali ke jalan.
Setiap anak memiliki hak untuk tumbuh, belajar, bermain, mendapatkan kasih sayang serta berkembang dalam lingkungan yang aman dan layak."Anak-anak semestinya tidak menjadikan jalan sebagai tempat mencari masa depan. Jalan adalah tempat yang harus mereka lewati, bukan tempat mereka menggantungkan kehidupan,” imbuhnya.
Abdul Rahman berharap Sinergi lintas sektor menjadi langkah nyata dalam mengembalikan anak kepada keluarga, pendidikan dan lingkungan yang aman, sekaligus memperkuat komitmen Pemerintah Kota Baubau dalam memberikan perlindungan terbaik bagi setiap anak-anak