Baubau - Pemkot Baubau melalui Dinas Perikanan Kota Baubau merespons positif kunjungan kerja Menteri ke salah satu perusahaan pengolahan ikan di Kelurahan Sulaa pada Sabtu (11/07/2026). Kunjungan ini membuka peluang besar bagi sektor perikanan lokal untuk menembus pasar internasional, khususnya dalam memenuhi kebutuhan pangan jemaah haji asal Indonesia di Arab Saudi.
Kepala Dinas Perikanan Kota Baubau, Hj. Yulia Widiarti, ST., M.Si., dalam keterangan persnya Sabtu (11/07/2026) mengungkapkan, pemenuhan pangan jemaah haji menggunakan bahan baku asli Indonesia sangat penting. Selain sesuai dengan selera nusantara, langkah ini dinilai strategis untuk menggerakkan perekonomian masyarakat serta pelaku UMKM dalam negeri.
"Selama ini, produk perikanan kita sudah banyak yang keluar daerah, namun untuk ekspor langsung secara mandiri memang belum ada, kecuali komoditas ubur-ubur kemarin. Karena itu, Dinas Perikanan saat ini gencar melakukan pendampingan kepada para pelaku usaha untuk menyiapkan seluruh dokumen administrasi agar mereka bisa langsung melakukan ekspor,"ungkapnya.
Yulia mengakui, kendala utama yang kerap dihadapi pelaku usaha lokal untuk ekspor adalah masalah kepastian pembayaran dan jaringan (koneksi) di luar negeri. Namun, dengan adanya peluang yang dikelola langsung melalui kerja sama kementerian, kekhawatiran tersebut dapat teratasi.Tantangan berikutnya yang sedang dibenahi adalah aspek ketersediaan dan sistem rantai dingin (cold chain). Dan saat ini, Kota Baubau telah siap dengan produk tuna loin di Buton Tuna Loin, optimalisasi Tempat Pelelangan Ikan (TPI), serta kesiapan cadangan daerah sebesar 40 ton dari para pelaku usaha.
"Ketersediaan ikan kita melimpah. Tantangannya adalah bagaimana menjaga kualitasnya saat produksi melonjak. Kuncinya ada pada fasilitas cold storage (gudang beku). Jika rantai dingin ini siap, kita bisa memberikan kepastian pasokan kepada pihak pembeli, sehingga harga ikan di tingkat nelayan tetap stabil dan tidak anjlok saat musim panen," tambahnya.
Dijelaskan, sebagai langkah nyata memperkuat infrastruktur rantai dingin tersebut, Kota Baubau kini tengah menggenjot pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih. Proyek ini diproyeksikan menjadi penopang utama fasilitas penyimpanan bagi para pelaku usaha perikanan.Hingga saat ini, dari empat lokasi yang diusulkan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), tiga lokasi telah resmi berkontrak per 22 Juni dan sudah mulai dikerjakan, yaitu Kelurahan Sulaa, Kelurahan Bone Bone dan Kelurahan Lowu-Lowu.
Sementara untuk satu lokasi lainnya, yaitu Lakologou, saat ini sedang dalam proses pengurusan administrasi pengalihan aset dari pemerintah provinsi ke pemerintah kota agar dapat diusulkan kembali ke KKP.
Lebih lanjut dijelaskan, peluang ekspor ke Arab Saudi ini dinilai bak gayung bersambut dengan visi jangka panjang Kota Baubau. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 20 tahun ke depan, Baubau ditargetkan menjadi Hub Maritim utama. Karena itu, jika kesepakatan (MOU) suplai ikan ke Arab Saudi ini terwujud, Kota Baubau tidak akan berjalan sendiri. Dinas Perikanan bakal membangun kolaborasi dan menkoneksikan jalur pengiriman dengan daerah tetangga yang memiliki potensi ikan besar, seperti Kabupaten Buton dan Buton Selatan (Busel).
"Saat ini kita sedang meletakkan dasar-dasarnya. Kita perbanyak fasilitas penyimpanan (cold storage), tingkatkan kapasitas nelayan serta pelaku usaha, dan kita perkuat pemenuhan administrasinya. Dengan kolaborasi bersama daerah sekitar, kita optimis sektor perikanan Baubau akan jauh lebih baik dan siap menjadi pusat maritim yang tangguh," tutupnya.