Baubau - Wakil Wali (Wawali) Kota Baubau Ir Wa Ode Hamsinah Bolu, M.Sc memberikan penekanan terkait urgensi penanganan stunting dalam Rapat Koordinasi pencegahan dan percepatan penurunan Stunting tahun 2026 yang digelar di ruang rapat Bappeda, Kamis (26/04/2026). Pasalnya, angka stunting bukan sekadar data statistik, melainkan cermin kualitas pembangunan manusia di Kota Baubau.
Wawali Kota Baubau Ir Wa Ode Hamsinah Bolu, M.Sc mengungkapkan, hak untuk hidup sehat dan tidak stunting adalah hak asasi yang paling mendasar bagi setiap anak yang lahir ke dunia. Pihaknya mengingatkan keberhasilan pembangunan fisik (infrastruktur) tidak akan berarti jika generasi penerusnya mengalami gagal tumbuh.
"Pembangunan bisa melaju pesat, tetapi jika stunting tidak teratasi, siapa yang akan meneruskan harapan kita? Ini bukan hanya masalah individu, tapi masalah keberlangsungan bangsa,"ungkapnya.
Orang nomor dua di Kota Baubau ini bernostalgia terkait dengan pola penanganan gizi di masa lalu, dimana bagaimana pemerintah zaman dulu melakukan intervensi hingga ke tingkat paling mikro. "Dulu di televisi (TVRI), pemerintah sampai mengajarkan cara membuat bubur yang benar. Ibu hamil diajak menanam sayur di kaleng bekas. Intervensinya sampai ke dapur. Namun fenomena saat ini di mana anak muda dan ibu muda lebih sering memberikan jajanan instan kepada anak, yang berdampak pada kurangnya asupan gizi kronis atau stunting by design,”tuturnya.
Ditambahkan, saat ini data menunjukkan prevalensi stunting Kota Baubau pada tahun 2024 masih berada di angka 29,8%. Pemerintah Kota Baubau telah menetapkan target ambisius dalam RPJMD untuk menurunkan angka tersebut menjadi 24,2% pada akhir tahun 2026.
"Artinya ada sekitar 5,6% yang harus kita potong dalam waktu dekat. Ini bukan sekadar komitmen administratif, tapi janji kita kepada generasi masa depan," tambahnya.
Menanggapi situasi fiskal daerah, Wawali mengakui adanya penurunan ketersediaan anggaran di Kota Baubau. Namun, diinstruksikan seluruh Kepala OPD untuk tetap menjadikan stunting sebagai prioritas utama melalui efisiensi yang cerdas.
"Kita harus 'kencangkan ikat pinggang', tapi jangan sampai kinerja turun. Pilih program yang berorientasi hasil, pangkas yang tidak perlu. Keberhasilan kita tidak semata ditentukan oleh besarnya anggaran, tapi oleh kekuatan komitmen dan soliditas tim terpadu," jelas Wa Ode Hamsinah.
Di akhir sambutannya, Wawali meminta dukungan penuh dari para Camat dan Lurah sebagai garda terdepan agar mereka mem-back up penuh kerja-kerja petugas Puskesmas dan OPD teknis di lapangan.
"Bapak Camat dan Lurah adalah 'Presiden' di wilayah masing-masing. Masyarakat adalah milik Bapak-Ibu. Saya minta keterlibatan aktif seluruh staf untuk mengawal setiap intervensi gizi agar menyentuh langsung kelompok sasaran. Mari kita bangun gerakan bersama untuk mewujudkan generasi emas Baubau 2045," pungkasnya