Jakarta - Sebagian publik di media sosial tengah ramai membahas ihwal kritik dari eks Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Dino Patti Djalal terhadap Presiden RI, Prabowo Subianto.
Dalam kritikannya, Dino Patti menyoroti tingginya frekuensi kunjungan kerja (kunker) luar negeri Presiden RI sejak memimpin Indonesia sejak Oktober 2024 lalu.
Setelah ramainya sorotan itu, Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya telah menegaskan bahwa rangkaian kunker Presiden RI ke berbagai negara, menghasilkan capaian konkret bagi Indonesia.
Teddy menilai, hasil diplomasi tersebut terlihat dari peningkatan investasi, perluasan akses pasar ekspor, penguatan sektor pertahanan, hingga kerja sama internasional di berbagai bidang.
Oleh karena itu, Seskab RI menilai anggapan yang menyebut kunjungan luar negeri yang dilakukan Presiden RI hanya bersifat seremonial, tidak sesuai dengan fakta yang ada.
"Salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial," tegas Teddy dalam keterangannya, pada Selasa, 2 Juni 2026.
"Jadi kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini," tambahnya.
Berkaca dari hal itu, berbagai kesempatan dan komitmen RI sebenarnya telah diumumkan secara resmi bersama negara mitra, mulai dari Arab Saudi, Jepang, Korea Selatan, hingga Amerika Serikat (AS).
Atas kerja sama yang dilakukan Presiden RI dengan berbagai negara mitra itu, total komitmen investasi konservatif itu disinyalir mencapai 123,23 miliar USD atau Rp2.198 triliun ditambah dengan 4 miliar Euro atau setara Rp83 triliun, sehingga totalnya Rp2.281 triliun.
Lantas, bagaimana kerja sama strategis yang dihasilkan Presiden Prabowo melalui berbagai kesempatan diplomasi ke luar negeri? Berikut ulasannya.
Teken Investasi Rp330 T di London
Presiden Prabowo diketahui pernah melawat ke London, Inggris dalam rangka menghadiri CEO Rountable Forum di London, Inggris, pada 21 November 2024.
Pada lawatan perdananya, Prabowo diketahui melakukan komitmen investasi konservatif senilai 18,5 miliar USD atau Rp330 triliun.
"Saya kira ini menunjukkan optimisme mereka terhadap ekonomi kita ya, kepercayaan," kata Prabowo dalam kesempatan itu.
"Ini juga di Brasil juga demikian, di Amerika juga demikian, di Tiongkok juga demikian. Alhamdulillah ya sangat produktif," tambahnya.
Investasi Bersama RI- Qatar Capai Rp71,3 T
Pada kesempatan berbeda, Presiden RI juga pernah melakukan kunjungan resmi ke Doha, Qatar, pada Minggu, 13 April 2025.
Kunjungan Prabowo ke Qatar untuk menyepakati kemitraan strategis (co-partnership) dalam pengelolaan dana investasi untuk Indonesia yang akan berfokus di berbagai sektor pembangunan.
Salah satu hasil utama dari kunjungan tersebut adalah untuk membentuk dana investasi bersama senilai 4 miliar USD atau Rp71,3 triliun.
Dana ini akan difokuskan pada pengembangan berbagai sektor diantaranya termasuk tapi tidak terbatas pada hilirisasi industri, energi terbarukan, dan fasilitas kesehatan di Indonesia.
Kala itu, Presiden Prabowo menyampaikan, bahwa masing-masing negara akan berkontribusi sebesar 2 miliar USD atau setara Rp35,6 triliun dalam dana tersebut.
"Kami sepakat untuk segera meningkatkan kerja sama. Emir Qatar akan berinvestasi melalui Danantara Indonesia, dengan komitmen sebesar 2 miliar USD untuk dana bersama ini," jelas Prabowo dalam kesempatan tersebut.
Kerja Sama RI-Saudi Capai Rp482,1 T
Dalam kesempatan berbeda, Presiden Prabowo juga pernah menyepakati komitmen investasi bersama Perdana Menteri Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman bin Abdulaziz Al Saud (MBS) di Jeddah, pada 2 Juli 2025 lalu.
Saat itu, Prabowo menandatangani sejumlah perjanjian dan nota kesepahaman antara pelaku usaha Indonesia dan Arab Saudi, dengan nilai total mencapai sekitar 27 miliar USD atau sekitar Rp482,1 triliun.
Kesepakatan tersebut mencakup bidang energi bersih, industri petrokimia, dan layanan bahan bakar penerbangan.
"Kedua pihak menyambut baik penandatanganan sejumlah perjanjian dan nota kesepahaman selama kunjungan ini antara lembaga-lembaga sektor swasta, yang nilainya mencapai sekitar 27 miliar USD di sejumlah bidang," demikian tercantum dalam pernyataan bersama RI-Saudi itu.
"Termasuk energi bersih, industri petrokimia, dan layanan bahan bakar penerbangan, yang mencerminkan aspirasi kedua pihak menuju kemitraan ekonomi yang maju," tandasnya.
MoU Rp685,6 T di Business Summit US-ABC
Di lain kesempatan, Prabowo juga pernah melawat ke Washington DC, AS, pada 18 Februari 2026 lalu.
Lawatan itu dalam rangka menyaksikan penandatanganan 11 nota kesepahaman (MoU) senilai 38,4 miliar USD atau setara Rp685,6 triliun.
Sekretariat Kabinet menyebut, penandatanganan 11 MoU ini menjadi wujud konkret kolaborasi sektor pemerintah serta swasta kedua negara di berbagai bidang.
Hal tersebut, mulai dari pertambangan dan hilirisasi, energi, agribisnis, tekstil dan garmen, hingga manufaktur furnitur dan pengembangan teknologi.
Investasi Rp583,71 T usai Lawatan ke Jepang-Korsel
Dalam kesempatan berbeda, Presiden Prabowo diketahui pernah melawat ke Tokyo, Jepang pada 20 Maret 2026.
Saat itu, kesepakatan yang tercapai dalam forum tersebut memiliki nilai total sebesar 23,63 miliar USD atau sekitar Rp401,71 triliun.
Kemudian, Prabowo juga menyambangi Korea Selatan (Korsel) pada 1 April 2026.
Penguatan kerja sama RI-Korsel itu diketahui ditandai dengan penandatanganan sejumlah MoU antara pelaku bisnis kedua negara senilai 10,2 miliar USD atau setara Rp182 triliun.
Kesepakatan Bisnis RI-Perancis Capai Rp61,25 T
Terbaru, Prabowo membawa pulang capaian kerja sama bisnis strategis dengan Prancis senilai 3,5 miliar USD atau Rp61,25 triliun.
Kesepakatan komitmen investasi itu terjadi setelah Presiden RI menghadiri peresmian France-Indonesia High Level Business Council di Prancis, pada 28 Mei 2026.
Berdasarkan keterangan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Sabtu, 30 Mei 2026, Indonesia dan Prancis memperkuat kerja sama di berbagai bidang strategis, termasuk ekonomi, investasi, perdagangan, dan pertahanan.
"Momentum peluncuran dewan bisnis tersebut menghasilkan empat kesepakatan komersial baru senilai 3,5 miliar USD atau Rp 61,25 triliun," demikian menurut keterangan resmi Bakom RI.
"(Kesepakatan itu) difokuskan pada sektor ketahanan energi, perdagangan, dan kerja sama pertahanan," tandasnya.***