Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia

Dipost Tanggal : 17-06-2023
Admin Lintas21
Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia
Fithria (Mahasiswa Doktor Ilmu Pertanian Universitas Halu Oleo)

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki lautan luas dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Dilihat dari letak geografisnya, maka berpotensi disebut Indonesia sebagai poros maritim dunia. Maka tak heran sejak jaman dahulu wilayah laut Nusantara menjadi lintasan yang penting di dunia apalagi ditunjang dengan kekayaan alam berupa rempah-rempah dan hasil bumi lainnya. Indonesia adalah salah satu negara yang terletak di Asia Tenggara dan merupakan negara kepulauan yang memiliki potensi strategis sebagai poros maritim dunia. Poros maritim adalah gagasan strategis yang diwujudkan untuk menjamin konektivitas antar pulau, pengembangan industri perkapalan dan perikanan, perbaikan transportasi laut, serta fokus pada keamanan maritim.

Untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia terdapat lima pilar utama yang menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia, antara lain: (1) Pembangunan kembali budaya maritim Indonesia, (2) Komitmen menjaga dan mengelola sumber daya laut melalui pengembangan industri perikanan, (3) Komitmen mendorong pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim dengan membangun tol laut, logistik, dan industri perkapalan serta pariwisata maritim, (4) Mengajak semua mitra Indonesia untuk bekerjasama pada bidang kelautan, (5) Pembangunan kekuataan pertahanan maritim untuk menjaga kedaulatan negara Indonesia.
Letak Indonesia yang berada di antara 2 benua yaitu Asia dan Australia membuat Indonesia bisa menjalin hubungan yang baik antara negara-negara di kedua benua tersebut. Sebagai contoh, perikanan tangkap di kawasan perbatasan laut Republik Indonesia dan Australia dalam mengembangkan potensi dan ekonomi Indonesia. Potensi tersebut telah berhasil menembus pasaran ekspor dengan komoditas berupa mutiara, rumput laut, lobster, dan kerapu. Untuk hasil bumi baik sayuran maupun buah-buahan seperti buncis, rambutan, mangga, manggis, dan lain-lain sudah rutin memenuhi kebutuhan konsumen di Malaysia dan Singapura.
Wilayah laut Indonesia mencapai 5,8 km² dengan garis pantai sepanjang 81.000 km yang merupakan terpanjang kedua di dunia. Dengan fakta tersebut, Indonesia mempunyai potensi sumber daya kelautan yang sangat besar.

Wilayah daratan Indonesia dibagi menjadi 3 (tiga) wilayah, yaitu wilayah dataran tinggi, wilayah dataran rendah dan wilayah gunung dan bukit.
Indonesia terkenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dengan potensi sumberdaya laut dan pesisir yang sangat menjanjikan. Wilayah pesisir dan lautan merupakan wilayah yang memiliki arti penting secara ekonomi dan politik bagi kehidupan masyarakat di Indonesia sejak dahulu. Sumber daya di wilayah pesisir merupakan penopang hidup bagi masyarakat yang hidup di pesisir untuk memperoleh makanan, kayu bakar, bangunan, dan fungsi lainnya.

Sasaran pembangunan maritim dan kelautan sangat realistis mengingat posisi Indonesia secara geografis sangat strategis dan memiliki keunggulan komparatif karena sangat dekat dengan pasar dunia seperti Cina, Jepang, Amerika, dan Uni Eropa, serta beberapa negara industri baru di Asia. Di sisi lain, Indonesia yang berada di daerah tropis dengan ribuan pulau memiliki kekayaan dan potensi sumberdaya maritim dan kelautan yang sangat besar. Kekayaan dan potensi tersebut dapat dijadikan sumber bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Salah satu hal mendasar yang menyebabkan belum optimalnya pemanfaatan sumberdaya maritim dan kelautan yaitu kurang memadainya sarana dan prasarana pendukung.
Beberapa faktor yang melemahkan pembangunan sektor maritim dan kelautan di Indonesia antara lain adalah:

Belum adanya terobosan kebijakan yang mampu mengikat dan memayungi instrumen ekonomi maritim dan kelautan, seperti kebijakan sektor perikanan, pertambangan dan energi lepas pantai, pariwisata bahari, transportasi laut dan kepelabuhanan, serta sumberdaya manusia;
Kebijakan maritim dan kelautan tidak menjadi payung politik bagi pembangunan ekonomi sehingga kelembagaan yang terlibat dalam sektor tersebut juga akan mengalami disorientasi;

Terjadinya backwash effect secara massive yang menempatkan sektor maritim dan kelautan, khususnya perikanan sebagai sektor pengurasan akibat dari tingkat kebocoran sektoral yang terjadi sehingga menyebabkan sektor perikanan menjadi termarjinalkan. 

Faktor Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang diharapkan menjadi saluran membagi kemakmuran secara adil nampaknya masih sulit diwujudkan, karena wajah APBN yang berorientasi daratan, dan selalu menempatkan secara marjinal sektor maritim dan kelautan termasuk provinsi berbasis maritim dan kelautan serta pulau-pulau kecilnya dalam pembagian sarana dan prasarana pembangunan.

Berkaitan dengan cita-cita Indonesia untuk menjadi sebuah negara dengan Poros Maritim Dunia, Indonesia berusaha memperkuat hubungan bilateral dengan negara-negara yang berada di kawasan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Hal ini bertujuan agar Indonesia dapat memperluas kerja sama dan memainkan peran yang lebih besar lagi terutama sebagai negara maritim. Dalam segi pemerintahan, Indonesia menganggap bahwa Samudera Hindia memiliki peluang yang dapat dimanfaatkan oleh Indonesia bagi kepentingan nasionalnya. **

Gambar Lainnya
Baca Artikel Lainnya :
Artikel Terbaru

Jumlah Pengunjung

Copyright © 2021. Lintas21.com ~ Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.